Jumat, 24 April 2009

asuhan keperawatan halusinasi

halusinasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
· Konsep Dasar Medis Halusinasi
1. Pengertian
Pendapat berbagai ahli tentang pengertian halusinasi yaitu :
a. Halusinasi merupakan persepsi sensorik imajinatif semata, apakah itu halusinasi auditorik, visual, taktil, olfaktorik, dll. ( David A. Tomb, 2004)
b. Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi, suatu pencerapan pancaindra tanpa adanya rangsangan dari luar (W.F.Maramis, 2005).
c. Halusinasi adalah persepsi yang salah dan palsu tetapi tidak ada rangsang yang menimbulkannya (tidak ada objeknya) misalnya, merasa melihat ada orang yang akan memukul, padahal tidakada seorangpun di sekitarnya. Sekalipun tidak nyata, tetapi bagi penderita gangguan jiwa, halusinasi dirasakan sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh (MIF Baihaqi,dkk,2005)
d. Gangguan persepsi sensori merupakan ketidakmampuan individu dalam mengidentifikasi stimulus sesuai dengan informasi yang diterima melaui pancaindra (Achir Yani S.Hamid, 2005)
2. Rentang Respons Neurobiologis
Menurut Achir Yani S.Hamid, 2005 bahwa perilaku klien dapat diidentifikasi sepanjang rentang respons neurobiologis dari yang adaptif ke maladaptif .
Respons adaptif Respons maladaptif
- Pikiran logis - Kadang proses - Gangguan proses
- Persepsi akurat pikir terganggu pikir; waham
- Emosi konsisten - Ilusi - Halusinasi
- Perilaku sesuai - Emosi berlebihan - Kesukaran proses
- Hubungan sosial /kurang emosi
Harmonis - Perilaku tidak - Perilaku tidak
Sesuai/tidak terorganisir
Biasanya - Isolasi sosial
- Menarik diri
Respon adaptif adalah respon individu dalam penyelesaian masalah yang masih dapat diterima oleh norma-norma social dan budaya yang umum berlaku, respon ini meliputi:
a. Pikiran logis; yaitu ide yang berjalan secara logis dan koherent
b. Persepsi akurat : yaitu proses diterimanya rangsang melalui panca indra yang didahului oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang ada di dalam maupun diluar dirinya.
c. Emosi konsisten ; yaitu manifestasi perasaan yang konsisten atau afek keluar disertai banyak komponen fisiologik dan biasanya berlangsung tidak lama.
d. Perilaku sesuai : perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalah masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya umum yang berlaku.
e. Hubungan sosial harmonis : yaitu hubungan yang dinamis menyangkut hubungan antar individu dan individu, individu dan kelompok dalam bentuk kerja sama.
f. Proses pikir kadang terganggu ( ilusi) : yaitu misinterpretasi dari persepsi impuls eksternal melalui alat panca indra yang memproduksi gambaran sensorik pada area tertentu di otak kemudian diinterpretasi sesuai dengan kejadian yang telah dialami sebelumnya.
g. Emosi berlebihan atau kurang : yaitu manifestasi perasaan atau afek keluar berlebihan atau kurang .
h. Perilaku tidak sesuai / biasa : yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau budaya umum yang berlaku.
i. Menarik diri : yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain , menghindari hubungan dengan orang lain .
j. Waham : yaitu keyakinan individu yang tidak dapat divalidasi atau dibuktikan dengan realitas.
3. Jenis-jenis halusinasi
Menurut Sunaryo, 2004 bahwa jenis-jenis halusinasi yaitu:
a. Halusinasi Penglihatan (halusinasi optik / visual) yaitu klien melihat bayangan seolah-olah berbentuk orang , binatang,barang atau benda yang tidak berbentuk seperti sinar, kilat atau pola cahaya yang dilihat seolah-olah berwarna atau tidak berwarna.
b. Halusinasi Pendengaran (halusinasi akusti / auditif) yaitu klien seolah-olah mendengar suara manusia, suara hewan, suara barang, suara mesin, suara musik dan suara kejadian alam.
c. Halusinasi Penciuman ( halusinasi olfaktorik ), yaitu klien seolah-olah mencium suatu bau tertentu.
d. Halusinasi pengecapan ( halusinasi gustatorik ) klien seolah-olah mengecap suatu zat atau rasa tentang sesuatu yang dimakan.
e. Halusinasi Perabaan ( halusinasi taktil ), yaitu klien seolah-olah merasa di raba-raba, disentuh, dicolek-colek, dicium, dirambati ulat dan disinari.
f. Halusinasi gerak ( halusinasi kinestetik ) yaitu seolah-olah merasa badannya bergerak di sebuah ruang tertentu danmerasa anggota badannya bergerak dengan sendirinya.
g. Halusinasi viseral yaitu klien merasakan alat tubuh bagian dalam seolah-olah ada perasaan tertentu yang timbul (misalnya lambung seperti ditusuk-tusuk jarum).
h. Halusinasi hipnagogik yaitu persepsi sensorik bekerja yang salah terdapat pada orang normal terjadi sebelum tidur.
i. Halusinasi hipnopompik yaitu persepsi sensorik bekerja yang salah, pada orang normal, terjadi sebelum bangun tidur.
j. Halusinasi histerik yaitu halusinasi yang timbul pada neurosis histerik karena konflik emosional.
4. Etiologi (Penyebab)
Faktor penyebab yang mungkin mengakibatkan perubahan persepsi sensori halusinasi adalah aspek biologis, psikologis dan sosial (Achir Yani S. Hamid, 2005):
a. Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak/susunan saraf pusat dapat menimbulkan gangguan halusinasi seperti hambatan perkembangan otak khususnya korteks frontal, temporal dan limbik. Gejala yang mungkin timbul adalah dalam belajar, berbicara, daya ingat dan mungkin muncul perilaku menarik diri atau kekerasan
b. Psikologis
Keluarga, pengasuh, dan lingkungan sangat mempengaruhi respons psikologis dari klien. Sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi terjadinya halusinasi adalah penolakan atau kekerasan dalam kehidupan klien. Penolakan dapat dirasakan dari ibu, pengasuh atau teman yang bersikap dingin, cemas, tidak sensitif atau bahkan terlalu melindungi. Pola asuh pada usia kanak-kanak yang tidak adekuat misalnya tidak ada kasih sayang, diwarnai kekerasan, ada kekosongan emosi.
a. Sosial Budaya
Kehidupan sosial budaya dapat pula mempengaruhi terjadinya halusinasi dimana terdapat konflik sosial budaya (peperangan, kerusuhan, kerawanan) kemiskinan, kehidupan yang terisolasi disertai stress yang menumpuk.
5. Tanda Dan Gejala
Menurut Achir Yani S.Hamid, 2005, dinyatakan bahwa perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah sebagai berikut:
a. Bicara, senyum dan tertawa sendiri
b. Menggerakkan bibir tanpa suara
c. Pergerakan mata yang cepat
d. Respon verbal yang lambat
e. Menarik diri dan menghindar dari orang lain
f. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata
g. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah
h. Perhatian dengan lingkungan kurang atau hanya beberapa detik
i. Berkonsentrasi terhadap pengalaman sensorinya
j. Sulit berhubungan dengan orang lain
k. Expresi muka tegang, mudah tersinggung, jengkel dan marah
l. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat
m. Tampak tremor dan berkeringat
n. Perilaku panik, agitasi atau kataton
o. Curiga, bermusuhan, merusak diri, orang lain dan lingkungan
p. Ketakutan
q. Tidak dapat mengurus diri
r. Biasa terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang.
6. Proses Terjadinya Halusinasi
Menurut Achir Yani S.Hamid, 2005 dinyatakan bahwa halusinasi dapat berkembang dalam 4 fase :
a. Fase Pertama :
Klien mengalami stres, cemas, perasaan perpisahan, kesepian yang memuncak dan tidak dapat diselesaikan. Klien mulai melamun dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan. Cara ini hanya menolong sementara.
b. Fase Kedua :
Kecemasan meningkat, melamun dan berpikir sendiri jadi dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas, klien tidak ingin orang lain tahu ia tetap dapat mengontrol.
c. Fase Ketiga :
Bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya.
d. Fase Keempat :
Halusinasi berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien. Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain dan lingkungan.

Romeltea Media
ASUHAN KEPERAWATAN Updated at:
Get Free Updates:
*Please click on the confirmation link sent in your Spam folder of Email*

Be the first to reply!

Posting Komentar

 
back to top